SIAPA ITU DOKTER HEWAN ?


            Melihat judul tulisan diatas orang-orang dapat langsung mengira siapa itu dokter hewan. Mungkin ada yang akan berkata “Oh, itu dokter yang khusus untuk merawat hewan”. Yah, sekilas kita dapat langsung berkata bahwa dokter hewan adalah dokter khusus untuk merawat hewan. Tapi tahukah kamu darimana asalnya sampai ada dokter hewan khususnya di Negara Indonesia?
Mythos dan legenda medis
            Profesi kesehatan di zaman dahulu kala dimanapun, berakar dari Mythologi dan hal-hal gaib (magic). Di zaman Yunani kuno, cerita tentang dewa-dewa penyakit dan penyembuh antara lain Apollo, Chiron (digambarkan sebagai manusia berbadan kuda=centaur) dan murid-muridnya antara lain yang terkenal adalah Aesklepios (latin : Aesculapius) seorang manusia biasa yang berkemampuan menyembuhkan penyakit manusia dan hewan.
            Simbol dari Aesculapius adalah Ular (As) dan Melingkar (klepios) di batang pohon dimana ular tidak beracun ini merupakan lambang sacral cara penyembuhan zaman kuno. Symbol kedokteran kemudian mengambil dari symbol Aesculapius, sedangkan profesi kedokteran hewan (veteriner) ada yang mengambil Centaur atau Aesculapius. Spesies ular melingkar di tongkat itu adalah Elaphe longissima.
            Di zaman Romawi Kuno  dikenal bangsa Etruscans yang sangat menyukai kuda dan sapi. Hal ini tampak dari  gambar-gambar yang merupakan peninggalan kuno. Hewan pada masa itu mempunyai nilai sakral ataupun nilai martabat dan pada ritual-ritual khusus digunakan sebagai hewan kurban. Setiap keberhasilan atau kemenangan,dilakukan perayaan dengan hewan kurban yang diberi nama-nama khusus. Kumpulan beberapa hewan kurban yang terdiri dari kombinasi beberapa jenis hewan antara lain babi (sus) ,biri-biri (ovis) , sapi jantan (bull) disebut   “souvetaurilia” .Sedangkan orang-orang yang mengurus hewan-hewan sakral yang akan dijadikan kurban tadi disebut “souvetaurinarii” yang kemudian diyakini sebagai lahirnya istilah “veterinarius”. Kemungkinan dari terminology lain yaitu masih di masa Romawi, dikenal hewan beban sebagai “veterina” dan suatu kamp penyimpanan hewan-hewan tersebut disebut “veterinarium”. Term “veterinarii” juga digunakan pada dokumen kuno sebagai “orang yang memiliki kekebalan khusus” karena memiliki “kompetensi khusus”. Dari berbagai literatur Lain yang juga membahas istilah “Veterinarius“diartikan sebagai orang-orang yang mengurus hewan beban/hewan pekerja.
      Sedangkan di Indonesia sendiri berawal dari abad ke-19, dimana pemerintah Hindia Belanda merasa membutuhkan tenaga kesehatan hewan menangani Kavaleri, sapi perah dan sapi pekerja. Kemudian pada tahun 1820 mereka mendatangkan dokter hewan dari Belanda yaitu R.A. Coppreters. Pada tahun 1834, Dokter hewan korps Kavaleri mulai didatangkan secara teratur. Pada tahun 1860 dibangun Sekolah Kedokteran Hewan di Surabaya. Pendidikan berlangsung selama 2 tahun. Namun sekolah tersebut ditutup pada tahun 1975 karena kurang dukungan dari politisi dan tentara kolonial.
Pada tahun 1892 Janeman, anggota parlemen Belanda, mengusulkan pada Gubernur Jenderal Pynacker Hordyk agar mendirikannya lembaga pendidikan untuk ajun dokter hewan pribumi (Inlandsche veeartsen) di Batavia karena terjadi ledakan wabah rinderpest yang terjadi mulai tahun 1879. Namun usul tersebut  mendapat tentangan dari kalangan ilmuan, birokrat dan militer colonial dikarenakan kehadiran dokter hewan pribumi dengan gaji rendah dan keterampilan yang menyamai dokter hewan Eropa dikhawatirkan akan menyaingi posisi mereka di dalam pemerintahan.
Kemudian pada 5 Mei 1907, Profesor Melchior Treub, Direktur Pertanian, mendirikan sekolah veteriner dan sebuah laboratorium yang pendidikan di Cimanggu Kecil Bogor. Lalu Cursus tot Opleiding van Inlandsche Veeartsen dipimpin oleh Dr. L. De Blick dengan Kepala Veeartsenlkunding Laboratorium (VL)  drh. De Does dan lama pendidikan selama 1 tahun. Pada tahun 1927 terjadi pemisahan NIVS dan VL. Pada Juni 1938, NIVS mendapat fasilitas baru di Kedung Halang Bogor serta memiliki asisten pengajar dari bangsa Indonesia yaitu R. Noto Soediro, Sikar, dan M. Nazar.
Perubahan terjadi lagi pada masa kependudukan Jepang (1942-1945). NIVS diubah menjadi Bogor Zyni Cakko (Sekolah Dokter Hewan Bogor) yang dipimpin perwira tentara Dai Nippon – Iwamoto. Pada 20 September 1946 didirikan Balai Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (BPTKH) dengan Rektor Magnifleus : Dr. Mohede
Saat Agresi Militer Belanda I (1947) menduduki Bogor. Kelas Pengungsian di Klaten  diubah Fakultas Kedokteran Hewan UGM (1949). Sedangkan saat kependudukan Belanda di Bogor (1947 – 1949), kampus PTKH dan sekitarnya ditutup digunakan      sebagai kamp tawanan Jepang dan RAPWI lalu Pemerintah Federal membentuk Facultet der  Diergeneeskundige dari Universiteit van Indonesia. Perkembangan Pendidikan Kedokteran Hewan setelah penyerahan kedaulatan RI yaitu :
1950 : Facultet Kedokteran Hewan, Universitet  Indonesia (FKH - UI)
1955 : Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia  (FKHP – UI)
1961 : Fakultas Kedokteran Hewan, Peternakan dan Perikanan Laut, UI (FKHPPI – UI)
1961 : Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Syahkuala (FKHP – UI)
1963 : Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH – IPB) 
1972 : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga – Surabaya.(FKH – UNAIR) yang
           Merupakan pecahan dari Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan Universitas
           Brawijaya. Fakultas Peternakan di UB dan FKH di UNAIR
1981 : Program Studi Kedokteran Hewan     Universitas      Udayana – Bali (PSKH – UNUD)
Tahun 2011  sudah ada 10 Universitas yang ada FKH/PSKHnya yaitu, Universitas Syahkuala Aceh, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Universitas Udayana Bali, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Universitas Brawijaya (UB) Malang, Universitas Nusa Tenggara Barat (UNTB), dan yang baru dibuka tahun 2010 adalah Universitas Hasanudin Makasar dan Universitas Nusa Cendana (UNDANA) NTT.

Veterinarian as a Medical Proffesion
            A veterinarian (America english) atau a veterinary surgeon (British english), sering disingkat Vet, adalah dokter untuk hewan dan praktisi kedokteran hewan. Kata Vet berasal dari bahasa Latin veterinae yang artinya “bekerja untuk hewan”. “Veterinarian” pertama kali digunakan oleh Thomas Browne pada tahun 1646.
            Kedokteran hewan adalah cabang ilmu pengetahuan yang memiliki aplikasi kesehatan, ilmu bedah, kesehatan publik, yang berhubungan dengan gigi, diagnosa, dan terapi untuk non-human animal, termasuk satwa liar dan hewan domestikasi, termasuk ternak, hewan pekerja dan hewan peliharaan. Praktisi kedokteran hewan dikenal dengan sebutan dokter hewan (drh).
            Fungsi utama dokter hewan :
h  Ilmu-ilmu Kedokteran hewan dipergunakan untuk menangani urusan mengenai hewan dan penyakit-penyakitnya (fungsi veteriner) berkaitan dengan jaminan keamanan (security) termasuk tidak mengambil resiko dapat mengganggu kesehatan (safety) baik dari hewan ke hewan dan utamanya dari hewan ke mausia yang bertujuan untuk menjamin kesehatan manusia, kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan dengan mengacu kepada pedoman-pedoman dan informasi internasional
h  Dalam cakupan ilmu ini termasuk pula penerapan ilmu medik (promotif, prefentif, kuratif, dan rehabilitatif) serta rambu-rambu profesi kedokteran (kode etik dan sumpah dokter)
h  Ilmu dan rambu kedokteran adalah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan keilmuan dan keahlian (mal praktek dan mal etik) yang dapat membahayakan dan merugikan masyarakat
Peran dan fungsi dokter hewan :
v    Peran dan fungsi dokter hewan dalam suatu negara adalah mencakup 3 bidang :
a)       KESEHATAN HEWAN (KESWAN)
b)      KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER (KESMAVET)
c)       PELAYANAN MEDIK VETERINER
v    Pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan untuk kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan (pengamatan, identifikasi, pencegahan, pengamanan, pemberantasan dan/atau pengobatan)
v    Pengamanan terhadap penyakit hewan yang dilakukan dengan :
a)       Penetapan penyakit hewan menular strategis, kawasan pengamanan penyakit hewan, penerapan prosedur biosafety dan biosecurity
b)      Pengebalan hewan
c)       Pengawasan lalu lintas hewan, produk hewan dan media pembawa penyakit hewan lainnya (fungsi-fungsi kekarantinaan hewan)
d)      Penerapan kewaspadaan dini dan kesiagaan darurat veteriner
v    Pengendalian dan penanggulangan zoonosis yaitu penyakit yang dapat ditularkan secara alami dari hewan kepada manusia dan sebaliknya (bekerjasama dengan Departemen Kesehatan)
v    Penjaminan produk hewan dari segi keamanannya, kesehatan, keutuhan dan kehalalan
v    Penjaminan higiene dan sanitasi (sanitasi=tidak menjadi sumber penyebaran penyakit)
v    Pengembangan kedokteran perbandingan (pendekatan permasalahan penyakit antara manusia dan hewan dengan ilmu medik yang sama namun obyek spesiesnya diperbandingkan untuk mengetahui resiko dan untuk mendukung pengetahuan kedokteran demi kesehatan manusia)
v    Penanganan bencana yang diakibatkan adanya wabah penyakit baik yang berpotensi memusnahkan hewan ekonomi (sumber pangan) maupun memusnahkan manusia
v    Dalam penelitian hewan melakukan peningkatan kessehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan

Bidang profesi yang potensial untuk Dokter Hewan :
1)      Food technology
2)      Food inspection
3)      Food hygiene
4)      Consumer protection
5)      Laboratories
6)      Legislation
7)      Artificial breeding
8)      Zoo
9)      Laboratory animals
10)  Animal welfare
11)  Zoonoses
12)  Veterinary medicine
13)  Clinical health care
14)  Disease control
15)  Exotic disease
16)  Epidemiology
17)  Quarantine
18)  Livestock and animal product
19)  Aquaculture
20)  Wildlife
21)  Environmental protection
22)  Nutrition
23)  Parasitology
24)  Teaching
25)  Research and development
26)  Livestock marketing
27)  Publications
28)  Economics
29)  Import animal product
30)  Livestick industry organization
31)  Administration
32)  International cooperation
33)  Profesional organization
34)  Biotechnology
35)  Comparative medicine
36)  Drug test
37)  Animal models
38)  Bioethics


(dari berbagai sumber)

Komentar

Anonim mengatakan…
Pemaparan yg bagus tp sayang sekali negara ini kurang begitu mensejahterakan dokter hewan yg dimanfaatkan jasanya melalui kontrak kerja THL non PTT.

Postingan populer dari blog ini

Sikap di awal April

Sasimhi sushi simelekeme

Jurnal Ilmiah, Apaan Tuh?