Selamat datang April! Wah, hari pertama di bulan april. Dan di hari ini saya belajar bagaimana beretika dan menghargai profesi atau pekerjaan orang lain. Saya belajar untuk tidak meninggikan profesi yang akan saya geluti nanti yaitu dokter hewan dan belajar untuk tidak merasa bahwa profesi yang akan saya geluti ini punya tingkatan yang lebih dibanding profesi-profesi lainnya. Saya sadar, kalau manusia itu pada dasarnya adalah makhluk sosial. Makhluk sosial yang dalam pengertiannya adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, makhluk yang butuh orang lain untuk membantu menjalani kehidupan itu sendiri. Itulah mengapa Tuhan menciptakan laki-laki untuk medampingi perempuan. Secara sadar maupun tidak sadar, setiap profesi itu saling membutuhkan satu sama lain. Walaupun kelak saya dokter hewan, tapi saya butuh sosok guru atau pengajar untuk bisa jadi seorang dokter hewan. Oleh karena itu, jangan sekali-kali menilai orang dari profesi yang digelutinya. Mau dia pedagang kaki lima, dia ...
* Semua lagi serius lihat tampilan slidenya dokter A Dokter A : ini nih, parasit yang biasanya ada di ikan-ikan mentah. Apa tuh yang biasa suka di makan orang Korea? Sera : Sasimhi Lainnya : Sushi *sekelas antusias nih jawab pertanyaan Dokter A Dokter A : oh ia, sasimhi sushi simelekeme itu lah Sekelas : -_________-'
Selain bikin skripsi, mahasiswa S1 yang mau lulus kudu bikin artikel jurnal lho. Hah, apaan lagi tuh? Sepertinya aturan ini Cuma bikin kuliah makin lama aja, cape deh. Lha kerjaan kita aja udah banyak banget sekarang. Tugas harian aja seabrek. Terus masih ada tugas kelompok. Belum lagi harus siapin diri hadapi aneka ujian. Mana urusan gaul nggak bisa ditinggalin gitu aja. Kalau jadi kuper siapa yang nanggung coba? Hedehh, makin puyeng ning ubun-ubun. Kenapa sih harus bikin jurnal segala? Ternyata Pak Dirjen Dikti, Djoko Santoso yang bikin kebijakan ini. Kata Pak Djoko, Indonesia kalah jauh dalam publikasi artikel jurnal ilmiah dibandingkan Negara-negara lain, tak terkecuali Malaysia. Wah bukan urusan sepakbola aja ya Indonesia kalah. Bikin karya ilmiah juga kita keok. Hmm… nggak terima nih ceritanya. Sebagai gambaran, menurut survey SCImago, selama kurun waktu 1996 – 2010 di wilayah regional Asia, Indonesia berada di urutan 12 dari 33 negara dengan jumlah publikasi 13.047. ...
Komentar