Yess! We are the WINNER
Pernah
merasa puas atau sangat puas dengan hasil yang didapat setelah begitu banyak
kerja keras, tantangan dan kesulitan yang dihadapi untuk mencapainya? Aku
pernah. Dan itu bukan tahun lalu, bukan bulan lalu, bukan minggu lalu tapi
kemarin. Bisa kamu bayangkan, ketika putus asa sudah mendera, rasa percaya pada
diri sendiri perlahan menghilang dan keyakinan bahwa kamu bisa mencapainya
tidak ada sama sekali. Yang bisa dilakukan hanyalah berserah pada keputusan
akhir yang akan kamu dapat.
JUBILATIO
CHOIR. Itu nama paduan suara gereja tepatnya di Gereja Kota Baru Kupang. Sudah
2 tahun aku bergabung dengan paduan suara itu, tidak tahu kenapa memilih paduan
suara itu tapi setiap anggota paduan suaranya sudah ku anggap sebagai keluarga
sendiri dan bapak Max sebagai pelatih sebagai orang tua kedua, tidak lupa ka
Erick kondaktur kami sebagai kakak tertua kami. Banyak kegiatan pelayanan yang
sudah kami lakukan, baik di gereja tetangga, gereja sendiri ataupun di
tempat-tempat lain.
Beberapa
hari yang lalu kami mengikuti lomba paduan suara yang diadakan oleh gereja
Betlehem Oesapa. Persiapan yang kami jalani selama 1 bulan, tapi dijalani
dengan latihan yang bisa dibilang tidak disiplin. Setiap hari ada saja salah
satu anggota yang tidak bisa hadir mengikuti latihan karena berhalangan baik
itu ada kegiatan, masih di kantor, kuliah, dan lain-lain. Awalnya ada sedikit
perdebatan untuk tetap ikut serta dalam lomba atau tidak melihat latihan yang
‘bolong’ dan kadang waktunya molor. Waktu mengikuti penyisihan kami semua awalnya
sedikit ragu tapi tetap percaya pada kemampuan dan diri kami sendiri bahwa kami
bisa memberikan yang terbaik dan pastinya akan lebih baik dari yang lain. Kami
tanamkan itu dalam hati kami.
Puji TUHAN .
. .
Kami lolos
ke babak final. Itu tidak membuat kami bangga, karena kami masih punya satu
tanggung jawab berat yang harus kami lakukan yaitu melakukan yang terbaik untuk
final. Ada satu hal yang selalu aku dan teman-teman ingat yang sering dikatakan
oleh Ka Erik bahwa “Yang paling penting itu bukan juaranya, tapi bagaimana kita
bisa memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Juara itu bonus untuk kita”. Setelah
dipikir-pikir, memang benar adanya. Tujuan dari ini semua hanyalah untuk memuji
dan memuliakan nama Tuhan. Percuma saja kita bernyanyi dengan merdu untuk Tuhan
jika itu tidak datang dari hati kita sendiri.
Persiapan
untuk final pun kami lalui. Sempat merasa putus asa ketika kami selesai
menyanyi pada waktu malam final. Merasa bahwa tadi kami melakukan banyak
kesalahan. Persaingan begitu ketat. Tapi kami memilih berdoa dan diam. Kami
yakin pada kemampuan kami, walaupun persiapan yang kami jalani tidak
mulus-mulus amat. Yang penting kami sudah membuat yang terbaik. Kami semua
memilih untuk menunggu hasil pengumuman, apapun hasilnya.
Dan . . .
Juara ketiga
untuk paduan suara jatuh pada nomor urut 02 . . Itu bukan kami.
Deg-degan
rasanya menunggu kata-kata yang keluar dari juri.
Juara kedua
untuk paduan suara jatuh pada nomor urut . . . 03
Dan itu kami
. . . !!!
Sungguh
bahagia dan tak menyangka dengan hasil yang dibacakan oleh juri. Mungkin kamu
berpikir buat apa terlalu senang dengan hasil yang didapat yaitu juara 2. Tapi
untuk aku dan teman-teman itu merupakan suatu hasil jerih payah yang kami dapat
setelah begitu banyak halangan dan tantangan yang kami dapat. Itu ‘bonus’ luar
biasa yang Tuhan berikan kepada kami. Dan kami sangat sangat bersyukur untuk
hasil yang kami dapat.
Terima kasih
Tuhan Yesus, biarlah hidup ini hanya untuk memuji dan memuliakan namamu. Terima
kasih buat bapa max, om jose dan ka erik yang selalu setia dan sabar melatih
kami. Terima kasih buat mama ina dan mama yala yang sudah membuat kami cantik
(#hehhe). Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung kami dan terima kasih
juga buat semua teman-teman paduan suara yang sudah mau sehati bersama memuji
Tuhan. Terima kasih ‘Gnomeo’ buat doa dan dukungannya J Tuhan berkati!

Komentar