Ya Ampun!!!
Ya ampun! Hatinya terbuat dari
batu apa? Benar-benar sama sekali tidak peka dengan apa yang saya rasa
sekarang. Dan bodohnya lagi saya masih betah dan nyaman dalam tanda kutip
dengan dia. Ini hubungan terburuk dalam sejarah kehidupan saya yang pernah saya
jalani. Dia bahkan nyaman-nyaman saja jika tidak ada kabar, pesan singkat atau
bahkan telepon dalam waktu 24 jam. Saya bukan orang yang bisa seperti itu. Saya
juga bukan tipe perempuan yang memaksa harus terus memberitahukan saya dimana,
kapan, dengan siapa dan apa yang dilakukan. Saya cuma ingin tahu saja kok,
karena menurut saya dalam suatu hubungan itu yang paling penting adalah
komunikasi, selain kepercayaan dan rasa sayang pastinya. Percuma kalau bilang
sayang atau cinta setengah mati kalau pada akhirnya tidak ada komunikasi sama
sekali.
Mungkin dia sudah terbiasa dengan
cara dan tingkah lakunya yang seperti itu, tapi sekali lagi saya TIDAK bisa
seperti itu. Walaupun segala hal yang dilakukan adalah untuk menunjukkan diri
saya itu spesial dan sangat berarti buat dia, tetap saja saya menganggap itu
cuma sebuah kamuflase belaka untuk menunjukkan bahwa setidaknya dia masih bisa
mengingat kehadiran saya.
Bukan memaksa, tapi lebih kepada
ingin pengertian. Saya sudah mengerti, sangat mengerti malah dengan segala
kondisi yang dia jalani saat ini. Tapi bukan begini caranya. Setelah
dipikir-pikir, intensitas komunikasi dengan teman-teman saya lebih banyak
daripada dengan dia. Kalau dibuat dalam persen, pesan dari teman saya bisa
sampai 90% sedangkan dia mungkin cuma 0,1% bahkan 0% saja.
Haah . . .Cuma bisa terima.
Terima kasih untuk seorang teman yang tiada hari tanpa absen selalu mengirimi
saya sebuah pesan singkat. Setidaknya ada yang sadar tentang kehadiran saya
dalam hidupnya.
Komentar