Curhatan Profesi part 2


Dari cerita saya sebelumnya, sebenarnya saya sedikit miris melihat orang-orang zaman sekarang yang masih mengabaikan profesi dokter hewan dan kesehatan hewan. Di kampus, kami diberikan kuliah mengenai KESMAVET atau Kesehatan Masyarakat Veteriner. Di mata kuliah ini kami belajar bagaimana bisa membuat manusia sejahtera melalui kesehatan hewan.

Coba sekali-kali luangkan waktu untuk menengok atau mengakses beberapa media online yang isinya mengenai berita kesehatan. Kalau saya tidak salah ingat, 2 minggu lalu saya membaca berita kesehatan terbaru mengenai Flu Burung. Pasti ada yang tahu, kenal dan familiar dengan penyakit yang menyerang unggas tersebut juga bersifat zoonosis (bisa menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya).
Di Cina, ada 2 orang yang meninggal akibat terinfeksi Flu Burung. Mungkin itu terdengar biasa saja, tapi yang mengherankan adalah jenis strain virus yang menginfeksi tersebut adalah jenis strain virus baru yang bahkan patogenitasnya (bisa menimbulkan penyakit) pada unggas sangat lemah bahkan tidak bisa menginfeksi sama sekali. Lalu bagaimana bisa menginfeksi manusia, sedangkan untuk menginfeksi unggas saja sangat lemah bahkan tidak mungkin. Wah, saya rasa ini jadi tugas baru untuk Dokter Hewan dan Dokter.

Yah, dunia ini semakin berkembang, semakin maju. Virus, bakteri, parasit juga ikut berkembang. Banyak strain-strain baru yang perlahan-lahan mulai bermunculan. Dan juga semakin banyak penyakit yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Waktu saya belajar mengenai bakteri, virus, parasit dan fungi saya baru sadar begitu banyaknya mikroorganisme dan begitu banyak benda asing di hewan yang bisa menularkan penyakit untuk kita. Dari situ saya mulai sadar untuk menjaga kesehatan hewan, kesehatan diri sendiri dan kesehatan lingkungan.

Manusia itu disebut sebagai cul-de-sac. Yang mana artinya merupakan agen terakhir dari infeksi mikoorganisme. Hmm, misalnya virus menginfeksi hewan --> dari hewan kemudian menginfeksi manusia lewat berbagai jalur atau cara --> manusia terinfeksi --> sakit (diobati bisa sembuh atau bisa berakhir dengan kematian). Jadi setelah menginfeksi manusia makan manusia itu tidak bisa kembali menginfeksi hewan lagi, mungkin ada beberapa kemungkinan bisa menginfeksi sesama manusia.

Dari pemaparan saya diatas, saya rasa mengapa begitu penting ada dokter hewan. Saya ingat kejadian waktu pemeriksaan hewan kurban. Ketika kami datang ke lokasi untuk memeriksa daging tersebut layak di konsumsi atau tidak, malah ada beberapa pihak yang dengan entengnya bilang ‘Apa sih dokter hewan? Buat apa sih daging ini diperiksa?’. Wah, saya langsung kaget, kok ada yah orang begitu. Mungkin karena kurang pemahaman.

Kami sering ‘berkoar-koar’ dimana-mana kalau di NTT itu ada dokter hewan, kalau kesehatan hewan itu penting. Tapi orang-orang banyak yang masih acuh tak acuh. Coba saja lihat sekarang, anak-anak muda khususnya pelajar lebih ‘PeWe’ tongkrongin facebook, twitter, whatsup dan segala jenis social media lain, main game online daripada membuka website-website yang isinya pengetahuan atau info mengenai kesehatan terkini. Tidak ada yang melarang untuk melakukan kesenanagan di atas, tapi jangan menyesal ketika anda menyadari diluar sana dunia kesehatan semakin berkembang dan banyak hal baru yang anda tidak ketahui.

Saya saja sempat kaget ketika dokter saya bilang sekarang untuk penyakit Brucelosis sudah banyak tipenya. Yang dulunya tidak bisa menginfeksi hewan laut, sekarang sudah bisa. Perkembangan vaksin juga semakin maju. Teman-teman saya yang kuliah di Kedokteran pasti tahu itu juga. Ada juga perubahan imunisasi cacar pada anak-anak. Wah, masih banyak lagi hal baru yang saya rasa saya baru tahu sekarang.

Intinya, manfaatkan perkembangan zaman dengan sebaik mungkin. Siapa tahu berapa puluh tahun lagi kita kembali ke zaman batu atau ke zaman yang tambah modern tapi untuk mendapatkan teknologi untuk mengakses itu semua dibutuhkan biaya yang sangat mahal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap di awal April

Sasimhi sushi simelekeme

Jurnal Ilmiah, Apaan Tuh?