Sacrify = Berkorban


Hari ini saya belajar berkorban. Bukan berkorban nyawa ataupun berkorban barang yang saya miliki, tetapi berkorban perasaan. Apakah kamu pernah berkorban perasaan?

Satu hal yang saya tahu, berkorban itu merupakan hal yang paling susah untuk dilakukan. Anggap saja kamu dan temanmu berada dalam jurang maut dan harus ada salah satu yang harus berkorban untuk menyelamatkan yang lainnya. Apakah kamu mau berkorban? Atau jika kamu dan temanmu menyukai satu orang yang sama, apakah kamu rela berkorban untuk temanmu dengan mengalah dan mengundurkan diri dari kisah percintaan yang dramatis itu? Atau jika kamu harus berkorban dengan berhenti sekolah atau kuliah dan kemudian mencari pekerjaan agar adikmu tak putus sekolah. Yah, yang penting adikku sekolah dan saya saja yang mencari kerja. Apakah pernah begitu?

Saya berkorban. Tapi pengorbanan yang saya lakukan tidak masuk dalam kategori yang saya tanyakan di atas. Saya berkorban melupakan orang yang mau tidak mau dan harus tidak harus saya lupakan. Susah? Ya bagi saya. Apalagi jika orang itu sudah melekat terlalu erat dalam ingatan saya dan meninggalkan begitu banyak bekas dalam keseharian saya. Apakah keputusan saya ini benar atau salah saya pun tidak tahu, yang saya tahu itu mungkin hal terbaik untuknya.

Dengan melupakan, saya belajar untuk tidak menghubungi, saya belajar untuk tidak memantau aktifitasnya, saya belajar untuk tidak mengingat setiap susunan atom perbuatannya dalam hidup saya dan yang paling penting saya belajar untuk belajar melakukan ketiga hal tersebut. Saya Cuma berpikir kalau saya terus mengingatnya, dia hanya akan terikat dengan kehidupan masa lampau kami. Dan mungkin itu bukan hal yang dia inginkan untuk dimensi kehidupannya yang berikut.

Berkorban itu memang susah, tapi terkadang dalam hidup hal yang susah sekalipun harus kita buat untuk cerita depan yang mungkin lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap di awal April

Sasimhi sushi simelekeme

Jurnal Ilmiah, Apaan Tuh?