Little Pieces of Me


Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Diajarkan dan dibentuk menjadi seorang gadis yang sederhana, yang tidak terlalu banyak menuntut dalam menjalani kehidupan. Dari kesederhanaan pula saya belajar menerima apapun yang orang tua saya berikan walaupun itu dipandang tidak sebanding dengan apa yang teman-teman saya dapatkan. Tapi saya bersyukur untuk itu semua. Dengan begitu saya tidak menjadi sosok yang rakus akan kekuasaan, tidak menjadi sosok yang tidak tahan diri jika melihat kelimpahan materi ataupun tidak menjadi panutan yang bisa membawa ke jurang kekelaman.

Saya lahir di sebuah tempat yang sederhana. Menurut cerita mama saya, saya dilahirkan di sebuah susteran di sebuah tempat yang bila saya sebutkan pun kamu tak akan tahu dimana. Telusuri peta pun nama itu tidak akan terlihat. Waktu itu, mama lagi tugas dan karena rumah sakit jauh jadi dengan dibantu suster saya dilahirkan ditempat. Tempat yang sederhana namun punya nilai keindahan sendiri, yang pada akhirnya akan selalu menggoreskan ingatan dan kerinduan untuk melihat tempat itu.

Saya tumbuh besar di tempat lain dari tempat kelahiran saya. Tempat ini mungkin bisa kamu temukan pada peta, tapi saya tidak berniat untuk bilang nama dari tempat ini. Hanya sebuah kota kecil, belum terlalu banyak keramaian bahkan terkadang sunyi bukan mencekam. Saya belajar dan membentuk pribadi yang kuat dari tempat ini. Saya dapatkan kepingan-kepingan pelajaran di tempat ini, yang kemudian saya satukan untuk membantu saya melangkah ke suatu tempat yang lebih besar lagi. Di tempat ini saya mulai belajar mencari sosok sahabat. Walaupun akan selalu ada batu sandungan tapi saya bersyukur itu membuat saya jadi lebih dewasa saat ini. Di kota inilah saya belajar untuk pertama kalinya mengenal jatuh cinta, patah hati dan rasa kehilangan. Bersyukur karena saya masih ‘kecil’ dan tidak benar-benar memakai ‘perasaan’ saat menjalaninya. Ah, lucunya ‘saya’ yang dulu.

Setiap orang akan terus bertumbuh, begitupun dengan saya. Tiba saatnya, saya sendiri yang menentukan masa depan walaupun harus jauh terpisah dari keluarga tercinta. Saya anak sulung, tapi tidak terbiasa jauh dari keluarga terutama Ibunda tercinta bukan seperti kedua adik saya yang bisa dibilang sedikit lebih ‘mandiri’ dibandingkan dengan saya. Hari pertama di kota baru, kota yang lebih besar dengan segala keragaman tata cara, tata bahasa dan tata lingkungan saya berusaha menyesuaikan diri. Tapi sayang, untuk pertama kalinya saya gagal beradaptasi. Tubuh seperti menolak berada di tempat asing dan alhasil saya harus terbaring lemah selama seminggu di rumah sakit. Lama-lama saya semakin terbiasa.  Ada kisah yang menarik ketika saya terus ‘dipaksa’ untuk berbicara layaknya ‘bahasa’ mereka. Awalnya sulit namun akhirnya saya malah kelihatan ‘cerewet’ sekali dengan bahasa itu.

Akhirnya, dimulailah petualangan di dunia masa depan yang saya pilih walaupun dengan langkah awal yang masih penuh keraguan (saya ingin menjadi seorang Psikolog tapi malah masuk ke jurusan Kedokteran Hewan. .hehehe). Tak perlu waktu lama, keraguan saya berubah jadi satu impian dan tekad yang harus saya wujudkan. Oh ya, saya bertemu banyak ‘makhluk’ menyenangkan di kota besar ini. Dan saya bersyukur memiliki mereka, hari-hari saya serasa lebih fleksibel jika ada mereka. Di kota besar ini pula saya mulai dikenal oleh banyak orang. Saya tidak menyangka kalau saya yang ‘asing’ ini bisa dikenal orang dan saya harap karena kebaikanlah saya dikenal. Diluar kota besar ini pun (di kota yang lebih besar lagi) saya punya banyak kenalan yang sangat menyenangkan.
Saya yang ‘asing’ ini dipercaya menjadi leader. Saya kaget, karena menurut saya ‘anak daerah’ itu terkadang dianggap tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa. Tapi tetap saya bangga karena saya hanya sesosok makhluk kecil dari kota kecil (hanya saya seorang) yang dapat kepercayaan dan tanggung jawab itu. Terima keluarga, dari hal sederhana saya bisa dapatkan banyak hal luar biasa.

“Hal luar biasa itu datang dari pribadi yang sederhana. Selama apa yang kamu pandang itu luar biasa, yang sederhana pun dapat kamu ubah” - Tata

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap di awal April

Sasimhi sushi simelekeme

Jurnal Ilmiah, Apaan Tuh?