Rokatenda masih bergejolak
Rokatenda masih bergejolak, ia tak hilang
Adakah kamu mendengar bisik-bisik kecemasan dari sana?
Terbawa angin kerinduan akan uluran tanganmu
Yang terulur bersama hati putih layaknya ibu pada anaknya
Rokatenda masih bergejolak, ia tidak bersembunyi dimana-mana
Pernahkah kamu menyisipkan sedikit memori otakmu untuk
berpikir nun jauh kesana?
Sudah baikkah mereka? Nyenyakkah tidur mereka? Terisikah perut-perut
mereka?
Jika tidak, pantaskah kamu memiliki hati jika tidak
berperasaan?
Rokatenda masih bergejolak, ia tetap berdiri teguh
Masih dengan tatapan sendu tak berkiaskan senyuman
Menunggu secuil harapan agar bisa memperbaiki tumpukan
kesusahan
Dimana tanganmu? Dimana hatimu? Dimana otakmu?
Mereka masih berdiri menunggumu. . .
Komentar