Hewan 'kepekaannya meramal bencana'

Silih berganti bencana alam terjadi tanpa bisa diprediksi sebelumnya. Bahkan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) pun masih dirasa kurang efektif dalam memprediksi bencana alam yang datang. Namun, belakangan banyak pihak yang mengamati tingkah laku aneh binatang sesaat sebelum bencana alam terjadi.

Menjadi fenomena penting, ketika para binatang bertingkah lain dari biasanya sesaat sebelum bencana alam terjai. Contohnya saja saat gempa di Padang silam, para binatang liar tiba-tiba kompak keluar dari hutan. Kejadian aneh juga terjadi di Thailand, beberapa ekor gajah yang sedang membawa wisatawan berlari menuju bukit, untuk menyelamatkan penunggangnya sebelum bencana tsunami menghancurkan dinding air di Phuket, Thailand. Di sebuah cagar alam pantai selatan India juga diamati sejumlah Flamingo beterbangan menuju hutan yang lebih aman dari cagar alam tersebu sebelum bencana tsunami. Pada saat tsunami melanda Srilangka, sekitar ratusan gajah, macan tutul, harimau, babi hutan, rusa, kerbau air, kera dan mamalia yang lebih kecil serta sejenis reptilia telah melarikan diri dengan selamat menuju ke dataran yang lebih tinggi.

Beberapa jenis binatang memang memiliki panca indera yang super sensitif terhadap suara, temperatur, sentuhan, getaran, aktifitas elektrostatis dan kimia serta medan magnet, medan listrik serta pendengaran dengan frekuensi rendah dimana manusia tidak dapatn mendengarnya. Riset-riset dibidang komunikasi akustik dan seismik telah menunjukkan bahwa beberapa jenis ikan sensitif terhadap getaran frekuensi rendah dan mendeteksi gempa jauh sebelum manusia merasakannya, disamping itu gajah juga bisa merasakan getaran-getaran yang dibangkitkan dari gempa bumi yang menyebabkan tsunami.

Peneliti-peneliti telah lama mempelajari jenis-jenis binatang yang diharapkan bisa mendengar dan merasakan sebelum bumi berguncang dan sebelum ombak besar tsunami menjalar menuju daeraj antai dengan menggunakan kepekaan inderanya sebagai alat prediksi. Kiyoshi Shimamura, seorang dokter kesehatan di Jepang pada bulan September 2003 telah menyampaikan hasil studinya di media massa berkaitan dengan studinya mengenai perilaku aneh anjing seperti menggigit, menyalak yang melampaui batas bisa digunakan sebagai alat untuk meramalkan terjadinya gempa. Peneliti dari Turki, Sheldrake juga melakukan studi pada reaksi binatang sebelum terjadinya gempa yang meliputi gempa California tahun 1994 dan gempa Turki tahun 1999. Seperti yang dilaporkan bahwa anjing berperilaku secara misterius dan tidak bisa tidur di tengah malam, burung-burung yang dikandangkan terlihat gelisah dan kucing-kucing terlihat takut dan selalu ingin bersembunyi sebelum saat terjadinya gempa bumi. Sehingga beberapa pakar menyimpulkan bahwa beberapa jenis binatang bisa merasakan perubahan pada medan magnet yang terjadi di dekat pusat gempa.

Baru-baru inipun ada kejadian yang terjadi di Pulau Flores khususnya daerah di sekitar gunung Tiga Warna Kelimutu yang dalam status siaga. Dimana, ratusan ekor monyet yang berasal dari gunung tersebut turun dan masuk ke dalam perkampungan warga.

Merujuk pada data tersebut, binatang sangat potensial dimanfaatkan sebagai peringatan dini datangnya bencana alam. Insting tajam binatang yang diekspresikan dalam tingkah laku aneh dapat meningkatkan kewaspadaan manusia akan datangnya bencana alam. Perilaku aneh ini terbukti telah menyelamatkan warga di sekitar Gunung Kiebesi di pulau Makiyan, Maluku Utara yang meletus pada tahun 1988, tanpa menelan korban jiwa. Padahal letusan tersebut telah melenyapkan puluhan desa serta ratusan hektar kebun cengkeh, pala, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan penduduk pulau tersebut telah lebih dulu mengungsi ketika melihat naiknya ikan-ikan di pantai dalam jumlah besar dan babi yang keluar dari  hutan menuju hingga ke perkampungan warga.

Sumber : Suara Satwa (dengan beberapa perubahan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sikap di awal April

Sasimhi sushi simelekeme

Jurnal Ilmiah, Apaan Tuh?