Potensi NTT, bangga ataukah?
Wah, hari ini saya mau membahas
mengenai budaya, khususnya sih mengenai budaya Nusa Tenggara Timur. Disini
bukan mau membahas jenisnya atau apapun itu tapi lebih ke potensi dari budaya
itu sendiri.
Jadi ceritanya saya bisa dapat
ilham buat menulis tentang ini berawal dari percakapan saya dengan teman saya
Rara (@jamduapagi). Pertama sih gara-gara ngobrol mengenai sirih pinang eh,
malah berlanjut ke tarian tradisional, motif kain tradisional, mamoli, museum
dan lain sebagainya.
Kalau mau dibilang Nusa Tenggara
Timur itu merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang punya beraneka ragam
kebudayaan, bahasa daerah, tarian, makanan khas, legenda ataupun cerita rakyat
dan juga berbagai jenis motif dan bentuk kain adat yang indah dengan cirri khasnya
masing-masing. Kesimpulannya sih, terlalu banyak potensi yang bisa di banggakan
dari Nusa Tenggara Timur. Selain jenis budaya di atas, ada juga berbagai jenis
bentuk rumah adat dan tempat-tempat ‘keramat’ yang bisa di kunjungi.
Seperti yang sudah saya bilang di
atas, begitu banyak potensi Nusa Tenggara Timur yang bisa di bayangkan. Sayangnya,
banyak kendala dalam mem-publish itu semua ke dunia nasional bahkan internasional
(menurut saya). Selama yang saya lihat (dari dulu sampai sekarang) banyak
tempat bagus dan keren yang belum ‘terjamah’ sama wisatawan bahkan pemerintah
sendiri. Mungkin bisa disebabkan karena lokasi yang sulit dijangkau, kurangnya
perhatian pemerintah di bidang pariswisata atau apalah begitu yang hanya bisa
saya tebak.
Kebudayaan itu selalu berhubungan
erat dengan yang namanya museum (menurut saya lagi). Dari museum kita bisa
dapat banyak ‘cerita’ mengenai Nusa Tenggara Timur tanpa perlu menyiapkan waktu
untuk berkeliling seluruh Nusa Tenggara Timur (wah, butuh dana dan waktu yang
banyak nih). Jadi bisa dibilang kalau museum itu bisa jadi sarana penunjang
lainnya untuk ‘mengkisahkan’ kebudayaan kita. Sayangnya, saya sedikit prihatin
dengan kondisi museum kita sendiri (maaf kalau saya terlalu jujur). Museum
seperti kurang terawat dan saya berani jamin jarang ada masyarakat yang
mengunjungi museum bahkan tidak ada sama sekali kecuali ada sekolah yang punya ‘inisiatif’
mengajak siswanya berkunjung ke museum.
Padahal banyak potensi yang bisa
kita tunjukkan hanya lewat museum saja. Sudah 3 tahun saya kuliah di Kupang dan
sama sekali saya tidak melihat inisiatif dari Pemerintah Kota Kupang untuk
memperbaiki dan meningkatkan potensi museum itu sendiri. Saya berani bertaruh
jika 99% pemuda atau pemudi Kota Kupang ada yang Cuma pergi satu kali ke museum
atau bahkan tidak sama sekali. Bahkan jika masyarakat berkendara melewati depan
museum pun jarang ada yang sedikit mencoba berpaling atau menengok kondisi
museum. Miris saya melihatnya.
Anak-anak jaman sekarang juga
sudah terlalu kelebihan ‘modern’-nya. Coba lihat di sekolah-sekolah, biasanya
kalau mau ujian pasti disuruh membawakan tarian tradisional. Nanti di bilang
ribetlah dandanannya, dan alasan lain yang menurut saya biasa saja. Coba bayangkan
kalau dari generasi kita sendiri sudah menganggap budaya sendiri ‘ribet’ nah
yang menjaga keutuhan budaya tersebut sampai generasi berikutnya siapa?
Untungnya di Kupang ini ada Taman Budaya, di situ ada sanggar tari tradisional
dan mereka sudah sering menari tarian NTT di hampir seluruh Indonesia. Dari
situlah kelestarian budaya bisa di jaga. Anak-anak sekarang kalau disuruh pakai
sesuatu yang berbau adat malah mengeluh. Itulah kemajuan jaman yang punya dua
sisi, positif dan negative.
Bicara soal budaya dan museum
saya jadi ingat satu hal yang juga berkaitan erat dengan itu, yaitu duta pariwisata
dan putrid NTT atau apalah itu namanya. Jujur, selama ini saya sama sekali
tidak merasakan dampak kerja mereka terhadap perubahan pariwisata atau yang
saya maksud adalah lebih ke potensinya (mungkin perasaan saya saja, tapi itulah
yang saya rasakan). Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun disini,
setidaknya jika kita fokus mengenalkan potensi budaya daerah kita di luar sana,
tapi pengetahuan budaya di dalam masyarakat kita sendiri bobrok yah buat apa? Menurut
saya, kalau masyarakat di dalam sendiri harus memiliki pengetahuan akan potensi
budaya yang lebih bagus dari orang luar atau wisatawan. Malu dong jika
wisatawan yang datang malah lebih tahu potensi budaya kita daripada kita
sendiri.
Sarannya sih (walaupun saya tahu
tidak akan ada orang dari pemerintah pariwisata, duta pariwisata, putri NTT
atau apalah itu yang membaca ini) lebih baik bangun dengan baik potensi yang
ada di NTT dulu dan pengetahuan masyarakat (museumnya di bikin bagus dong) baru
deh anda boleh dengan bangganya show up NTT di luar sana. Dan untuk kita yang
bukan duta atau putrid NTT atau apalah itu jangan tunggu mau jadi duta atau putri
NTT atau apalah itu untuk bangun budaya NTT. Tidak harus jadi duta atau putri
NTT kan untuk bangun potensi budaya NTT ?
Komentar